Jejak Awal Sang Pewaris Tahta Banjar
Dalam sejarah panjang Kesultanan Banjar, nama Pangeran Hidayatullah atau yang memiliki nama lahir Gusti Andarun menjadi salah satu tokoh paling penting dan paling kompleks dalam konflik kekuasaan melawan kolonial Belanda. Ia lahir sekitar 1821–1822 di Martapura, Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan Kesultanan Banjar.
Ayahnya adalah Sultan Muda Abdurrahman (Pangeran Ratu), sementara ibunya bernama Ratu Siti, dan ia merupakan cucu dari Sultan Adam Alwasikibillah, salah satu sultan besar Banjar.
Dalam perjalanan sejarahnya, ia dikenal dengan beberapa gelar kehormatan seperti Pangeran Hidayatullah, Hidayatullah II, hingga gelar lengkapnya Al Sulthan Hidayatullah Alwasikibillah atau Sultan Hidayatullah Halil Illah.
Gelar-gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi mencerminkan legitimasi kuat yang melekat pada dirinya dalam struktur pewarisan tahta Kesultanan Banjar.
Namun perjalanan menuju tahta tidak pernah sederhana. Ia tumbuh di tengah dinamika politik yang semakin dipengaruhi intervensi Belanda, hingga akhirnya menjadi tokoh sentral dalam konflik besar yang dikenal sebagai Perang Banjar (1859–1863).
Warisan Tahta yang Diperebutkan, Antara Wasiat Sultan dan Kepentingan Kolonial
Puncak awal konflik terjadi ketika Sultan Adam Alwasikibillah mengeluarkan surat wasiat pada 12 Safar 1259 H (1855 M) yang menetapkan Pangeran Hidayatullah sebagai penerus tahta Kesultanan Banjar secara sah. Dalam konteks hukum kerajaan, ini menjadikannya pewaris de jure yang memiliki legitimasi penuh.
Namun keputusan ini tidak sejalan dengan kepentingan kolonial Belanda. Pemerintah kolonial justru mengangkat Pangeran Tamjidillah (Tamjidullah II) sebagai Sultan Banjar.
Inilah awal dualisme kekuasaan yang sangat tajam. Hidayatullah sebagai sultan sah menurut adat dan wasiat, sementara Tamjidillah sebagai sultan versi Belanda.
Situasi semakin memanas ketika masyarakat Banjar di berbagai wilayah, terutama Banua Lima, justru menobatkan Hidayatullah sebagai sultan secara de facto. Dalam konteks rakyat, ia bukan hanya pewaris tahta, tetapi pemimpin yang benar-benar mereka akui di tengah krisis politik dan tekanan kolonial.
Mangkubumi yang Menjadi Panglima Perlawanan
Sebelum menjadi simbol perlawanan, Pangeran Hidayatullah terlebih dahulu menjabat sebagai Mangkubumi, yakni wakil sultan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banjar. Dalam posisi ini, ia dikenal aktif membangun hubungan dengan rakyat serta para tokoh daerah, memperkuat jaringan sosial dan politik di berbagai wilayah.
Ketika konflik dengan Belanda semakin terbuka, perannya berubah drastis. Ia tidak lagi sekadar pejabat kerajaan, tetapi menjadi panglima utama Perang Banjar.
Dalam perang ini, ia mengatur strategi perlawanan dari wilayah Martapura, Banua Lima, hingga Tanah Dusun, dengan pola perang yang bersifat luas dan sporadis, melibatkan seluruh kekuatan rakyat.
Pada 1859 di Amuntai, tokoh perlawanan besar lainnya, Pangeran Antasari, bahkan mengangkat Hidayatullah sebagai pemimpin tertinggi Banjar dengan gelar Sultan Hidayatullah. Sejak saat itu, ia menjadi figur sentral dalam struktur perlawanan rakyat Banjar terhadap kolonialisme.
Belanda sendiri menyebutnya sebagai “hoofdostandeling”, yang berarti kepala pemberontak. Sebutan ini menunjukkan betapa seriusnya peran Hidayatullah dalam mengorganisir perlawanan yang terstruktur dan meluas.
Strategi Perang dan Jiwa Nasionalisme yang Menggerakkan Rakyat
Perlawanan yang dipimpin Pangeran Hidayatullah tidak bersifat sporadis tanpa arah. Ia menyusun strategi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, dari bangsawan hingga rakyat biasa.
Dalam berbagai catatan sejarah, ia dikenal memiliki kemampuan membaca kondisi sosial dan mengubahnya menjadi kekuatan perlawanan.
Pada pertemuan 3 November 1857 di Martapura, muncul prinsip politik penting yang kemudian menjadi dasar konflik: menentang Sultan Tamjidillah sama dengan menentang Belanda . Kalimat ini memperjelas posisi politik Hidayatullah sebagai representasi perlawanan terhadap dominasi kolonial.
Di balik itu semua, terdapat nilai-nilai yang melekat kuat pada dirinya. Ia dikenal memiliki perasaan senasib dengan rakyat, rasa kekeluargaan yang tinggi, tanggung jawab besar, kerja keras, serta kepedulian sosial. Nilai-nilai inilah yang membuatnya tidak hanya dihormati sebagai bangsawan, tetapi juga dicintai sebagai pemimpin rakyat.
Konflik Dua Sultan: Hidayatullah vs Tamjidillah
Konflik utama dalam sejarah Kesultanan Banjar sebenarnya bukan sekadar perebutan tahta, tetapi pertarungan antara dua legitimasi yang berbeda.
Di satu sisi, Pangeran Hidayatullah memiliki legitimasi kuat dari wasiat Sultan Adam, dukungan rakyat, serta pengakuan dari tokoh perlawanan seperti Pangeran Antasari. Ia adalah sultan de jure sekaligus de facto dalam perspektif rakyat Banjar.
Di sisi lain, Pangeran Tamjidillah (Tamjidullah II) diangkat oleh Belanda tanpa dasar wasiat kerajaan. Ia menjadi simbol kekuasaan kolonial, yang dalam banyak catatan sejarah diposisikan sebagai sultan boneka untuk mengendalikan Kesultanan Banjar dari dalam.
Perbedaan ini menciptakan ketegangan besar yang akhirnya meledak menjadi Perang Banjar 1859–1863, salah satu perang terpanjang dan paling penting di Kalimantan.
Penangkapan dan Pengasingan ke Cianjur
Setelah perlawanan panjang, Pangeran Hidayatullah akhirnya ditangkap oleh Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Batavia, sebelum akhirnya dipindahkan ke Cianjur, Jawa Barat, sebagai tahanan kota.
Di tempat pengasingan inilah fase terakhir kehidupannya dimulai, tetapi bukan sebagai akhir perjuangan. Justru di Cianjur ia dikenal sebagai “Ulama Berjubah Kuning”, sebuah julukan yang diberikan masyarakat setempat karena aktivitasnya dalam menyebarkan ilmu agama.
Ia mengajarkan kitab kuning, berpegang pada Ahlussunnah wal Jama’ah, serta mengamalkan Tarekat Sammaniyyah yang diperolehnya sejak masa pendidikan di Martapura. Dari seorang panglima perang, ia bertransformasi menjadi tokoh spiritual yang dihormati.
Hingga akhir hayatnya pada 24 November 1904 di Cianjur, ia tetap menjalankan peran dakwah. Bahkan di Cianjur, ia telah dianggap sebagai salah satu pahlawan yang berjasa besar dalam sejarah perlawanan Banjar.
Karakter, Legasi, dan Jejak Sejarah yang Ditinggalkan
Pangeran Hidayatullah dikenal sebagai sosok yang menolak menjadi boneka Belanda, sebuah sikap yang menjadi inti dari seluruh perjalanan hidupnya. Ia tidak hidup dalam kemewahan istana semata, karena masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di lingkungan masyarakat Martapura bersama ibunya.
Karakternya sebagai pemimpin terlihat dari kemampuannya mengorganisir perlawanan secara sistematis, sekaligus tetap menjaga sisi religius yang kuat hingga akhir hayatnya. Kombinasi antara pemimpin politik dan ulama menjadikannya figur yang unik dalam sejarah Nusantara.
Warisan namanya masih hidup hingga hari ini. Salah satu yang paling dikenal adalah Jembatan Pangeran Hidayatullah di Banua Anyar, Banjarmasin, yang menjadi penanda bahwa namanya tetap melekat dalam ruang geografis dan ingatan masyarakat Kalimantan Selatan.
Simbol Perlawanan dan Martabat Banjar
Pangeran Hidayatullah bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol dari pertarungan antara kedaulatan lokal dan kekuatan kolonial. Ia adalah sultan yang sah menurut wasiat kerajaan, pemimpin perang yang diakui rakyat, sekaligus ulama yang dihormati di pengasingan.
Perbedaan klaim antara dirinya dan Tamjidillah bukan hanya konflik internal kerajaan, tetapi menjadi pemicu utama Perang Banjar, yang menandai salah satu bab penting dalam sejarah perlawanan di Nusantara.
Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai representasi dari sikap tegas: menolak tunduk, menolak menjadi alat kolonial, dan memilih berdiri bersama rakyat hingga akhir hayatnya.